Itulah sebagian cuplikan bait lagu rohani yang memberitahu manusia bahwa kesanggupannya adalah olek karena Tuhan. Karena itu perlukah kita jadi tinggi hati atau over acting jika pelayanan kita mungkin melebihi para pelayan lain?
Tetapi telinga Tuhan sungguh berbeda dengan telinga manuasia. Selayaknya mendapat appresiasi atau ucapan selamat atas kehebatan pelayanan murid, malah sebaliknya mendapat sindiran tajam dari Yesus lewat sebuah bahasa illustrasi, ”Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit”. Boleh dipastikan Ke 70 murid pasti amat tersinggung bahkan mungkin sock therapi mendengar umpan balik jawaban Yesus. Namun sesungguhnya jawaban Yesus tersebut adalah sinyal kuat bagi murid-murid bahwa keberhasilan sebuah pelayanan bukan hanya dari segi yang dapat dilihat oleh mata. Kesuksesan pelayanan bukan semata-mata karena mendemonstrasikan tanda-tanda heran atau berbagai mujizat supranatural.
Para pelayan boleh bangga, tapi Yesus tidak pernah bangga karena semua itu adalah karunia pemberian Yesus sendiri pada gerejaNya. Bila Tuhan mau masih terlalu banyak stock karunia yang tak pernah habis disorga untuk dihadiahkan gratis bagi para murid. Semua itu tak ada artinya bila seseorang tersebut tidak tergolong menjadi anggota kerajaan sorga itu sendiri. Tuhan mau ketika seseorang mendemonstrasikan perkara-perkara kerajaan sorga, maka orang itu sendiri haruslah menjadi bagian atau anggota dari kerajaan itu sendiri. Dari peristiwa tersebut kita diingatkan akan kasus di Injil Matius 7: 22-23, bahwa ada sekelompok murid Tuhan yang begitu gencar mempraktekkan tanda-tanda heran atas nama Tuhan, tapi saat hari penghakiman mereka ini ditolak bahkan tidak dikenal dan dikategorikan sebagai hamba pembuat kejahatan. Ini adalah kasus yang sangat memprihatinkan yang tidak diinginkan yesus untuk terjadi lagi. Illustrasi tentang jatuhnya iblis dari langit bagaikan kilat adalah peringatan serius dari Yesus bahwa hamba-hamba Allah yang dipercayakan kedudukan tinggi seperti kemampuan membuat mujizat, bila mana tidak berpegang firman maka akan secepatnya jatuh seperti kilat dari langit.
Yesus menganjurkan kepada para murid atau gereja Tuhan bahwa melakukan kehendak Allah jauh lebih berarti dibanding hanya sekedar menerima karunia. Apalah artinya seseorang menerima semuanya itu jika jiwanya terhilang. Bukan berarti karunia-karunia tidak perlu, tapi saat seseorang berkeputusan melakukan perbuatan yang berkenan dihadapan Allah, itu melebihi karunia. Soal pemberian karunia mujizat adalah keputusan Tuhan untuk seseorang, tetapi soal melakukan kehendak bapa adalah merupakan keputusan seseorang terhadap Tuhan. Mujizat adalah pemberian, tapi melakukan kehendak bapa adalah bukti respon kasih kita terhadap Dia. Bukti respon mengasihi Yesus inilah yang menjadi tiket bagi kita untuk bisa masuk dan terdaftar dalam kerajaan sorga. Penentu untuk menjadi terdaftar dalam kerajaan sorga sekali-kali bukan ditentukan oleh banyaknya pelayanan atau mujizat yang kita perbuat.
Tidak berlebihan bila Yesus meragukan motivasi pelayanan para murid yang cenderung mencari populeritas. Sepanjang pelayanan Yesus ada berbagai kasus para murid yang ditemukan yang berpeluang mencoret nama mereka dari kitab kehidupan. Para murid pernah bertengkar satu dengan yang lain sampai akhirnya mereka datang pada Yesu dan bertanya, ”siapa diantara mereka yang terbesar?”
( Lukas 9:46 ). Bukankah ini tidak merupakan kegilaan dalam mencari populeritas? Bukan hanya sampai disitu, iri hati sesama pelayan juga mengkhamiri hati pelayanan mereka. Ini terbukti saat mereka berusaha mencegah seseorang saat mengusir setan atas nama Yesus ( Lukas 9:49-50 ). Seakan-akan para murid tidak senang bila ada murid lain yang memakai nama Yesus untuk menayatakan mujizat.
Karena itu, kisah ini menguatkan kita bahwa karuni mujizat bukanlah segalanya, itu hanya sekedar tips yang menyertai hidup&pelayanan, tapi respon hati kita yang mengasihi Yesus jauh lebih berarti dan syarat utama untuk teregister di sorga.


















